Postingan

LSI: Gara-gara Ma'ruf Elektabilitas Jokowi Merosot

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil survei efek bakal calon wakil presiden (bacawapres) terhadap elektabilitas calon presiden (bacapres) di Pilpres 2019. Dalam survei ini, disebutkan bacawapres Ma'ruf Amin yang mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di pilpres justru mengurangi elektabilitasnya. "Ada tren penurunan yang terjadi pada elektabilitas Jokowi ketika berpasangan dengan KH Ma'ruf. Sebaliknya elektabilitas Prabowo naik ketika berpasangan dengan Sandiaga Uno," kata peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (21/8). Meski begitu, Adjie memaparkan keberadaan Ma'ruf memang menaikkan suara Jokowi di kalangan masyarakat muslim. Sebelum berpasangan dengan Ma'ruf, Jokowi memiliki elektabilitas 51,7 persen. Namun, ketika berpasangan menjadi 52,7 persen. Sayangnya, keberadaan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini juga menggerus elektabilitas Jokowi di segmen pemilih non muslim. Jika Jokowi tida...

Karena Ucapan Ini, Jokowi Bisa Dimakzulkan

Pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie tentang pelarangan peraturan daerah (Perda) berlandas agama saat sambutan dalam sebuah acara partai yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo bisa berdampak pada pemakzulan Presiden. Menurut advokat senior, Eggi Sudjana, pernyataan Grace jelas melanggar Pancasila dan UUD 1945. Apalagi pernyataan itu diucapkan di depan Presiden. "Presiden dan DPR adalah pelaksana UUD 1945 yang bertugas membuat undang-undang. Sementara Perda adalah turunan dari UUD dan UU yang dibuat presiden. Ucapan Grace jelas melanggar struktur hukum tersebut," kata Eggi kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (15/11). Atas dasar tersebut jika Presiden membiarkan pendukungnya berbicara demikian berarti sama saja mengaminkan adanya pelanggaran hukum yang di depan matanya. "Kalau dia (Grace) bicara di depan Presiden, kemudian Presiden tidak menegur, malah tepuk tangan, ini ada indikasi Presiden juga melanggar dan bisa di-impeach kalau ...

Survei Terbaru Elektabilitas Prabowo-Sandi 56,39%, Jokowi-Ma’ruf 35,58%

Indonesia Development Monitoring (IDM) melalui Direktur Eksekutifnya, Bin Firman Tresnadi dalam keterangan pers yang diterima Zonasatu News hari ini Selasa 30 Oktober 2018, menyatakan Faktor Ekonomi Membuat Elektabilitas Jokowi-Ma’aruf Melorot Dalam survei yang dilakukan oleh IDM pada tanggal 8 – 21 Oktober 2018, dengan responden sebanyak 2.178 yang tersebar di 33 propinsi dengan Margin of Error sebesar -+ 2,1% dengan tingkat kepercayaan 95%. Diketahui bahwa hampir 70% pemilih Jokowi pada Pilpres 2014 lalu dikarenakan adanya keinginan kehidupan ekonomi responden lebih baik (meningkat) dibandingkan pada masa sebelumnya. Yang terjadi justru sebaliknya. Dalam temuan survei IDM, diketahui bahwa 38.9% responden mengatakan kondisi ekonomi saat ini mengalami penurunan. Dan hanya 12.7% saja responden yang mengatakan mengalami peningkatan ekonomi. Sedangkan sisanya sebesar 48,4% mengatakan kondisi ekonomi mereka sama saja (stagnan). Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional selama 4 t...

Skak Mat, Soal Habib Rizieq, Jubir FPI: Kok BIN Bereaksi?

Imam besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab diberitakan ditangkap oleh Kepolisian Arab Saudi karena pemasangan bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid di tembok luar rumahnya. Juru bicara FPI Slamet Ma'arif mengaku juga curiga dengan viralnya foto itu. "Kok ada juga yang sudah siap  standby  untuk mengambil foto, kemudian kirim berita ke KBRI, kemudian memviralkan," kata Slamet di Jalan Medan Merdeka Barat, Jumat 9 November 2018. Slamet menuturkan, Habib Rizieq saat ini sudah beraktivitas dengan normal di sana. Dia juga katanya telah melaporkan dugaan fitnah ini kepada aparat berwenang di Saudi. "Alhamdulillah Allah kasih perlindungan sehat walafiat, sudah kembali ke rumahnya, sudah terima tamu di rumahnya dan sudah melaporkan pihak-pihak yang mencoba memfitnah beliau agar kepolisian Saudi Arabia bisa memproses," ujar Slamet. Mengenai dugaan intelijen bermain dalam kasus ini, Slamet menegaskan pihaknya tidak pernah menyebut-nyebut intelijen Indo...

Jokowi Kerja, Kerja, Kerja Untuk Siapa?

Bakal calon presiden Prabowo Subianto mengkritik jargon milik Presiden Joko Widodo. Menurut dia, sudah hampir lima tahun pemerintahan Jokowi mengusung jargon 'kerja, kerja, kerja', tapi belum terlihat kesejahteraan untuk masyarakat. "Katanya kondisi ekonomi Indonesia baik, rakyat gembira, yang penting kita kerja terus. Kerja, kerja, kerja. Pertanyaannya adalah kerja untuk siapa?" kata Prabowo disambut tepuk tangan saat berpidato pada bedah buku Paradoks Indonesia di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (1/9). Menurut Prabowo, selama lima tahun masa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla kondisi Indonesia malah sebaliknya. Mengutip berbagai sumber, Prabowo menyebut Indonesia menempati peringkat 152 dari 172 negara dalam urusan pendapatan dalam satuan dolar Amerika Serikat. Lalu soal indeks pembangunan manusia, Prabowo menyatakan Indonesia berada di empat terbawah dari 116 negara. Soal ketersediaan urusan air bersih, Prabowo menyatakan Indonesia berada di urutan ke-123 dari ...

Beri Keterangan Palsu, Jokowi Trancam Dimakzulkan & Batal Nyapres

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah menyatakan bahwa ayahnya berasal dari Karanganyar, namun di lain kesempatan dia juga menyebut orang tuanya dari Boyolali. Terlepas dari polemik pernyataan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto soal' tampang Boyolali, perbedaan keterangan tersebut menimbulkan indikasi Jokowi memberikan keterangan palsu. Aktivis politik yang juga pengacara senior Eggi Sudjana menilai, keterangan palsu yang disampaikan Jokowi atau keterangan yang berubah-ubah membuatnya terancam hukuman pidana. "Jokowi membuat keterangan palsu itu sanksinya pidana tujuh tahun. Dan selama jadi presiden bisa dilakukan impeachment karena melanggar hukum dan melakukan perbuatan tercela," bebernya kepada Kantor Berita Politik, Senin (5/11). Menurut Eggi, keterangan palsu tergolong perbuatan tercela yang bisa dikenakan sanksi kepada siapapun. Sementara, soal impeachment atau pemakzulan berlandaskan pada pasal 7A UUD 1945 amandemen. "Sekarang yang jadi masalahnya, berani ti...

Sebaiknya Jokowi Tidak Menjabat Lagi

Era Presiden SBY dan sebelumnya, demo mahasiswa selalu ramai. Masa Orde Baru pun juga banyak demo. Mahasiswa paling getol. BBM naik, demo. Listrik naik, turun ke jalan. Dolar naik, presiden diturunkan. Pak Harto salah satu korbannya. Kenapa sekarang jadi sepi? Apakah mahasiswa sudah tak peka? ciut nyalinya? Melempem seperti kerupuk yang habis kehujanan, jatuh ke tanah, lalu diinjek gerombolan parade sapi yang sedang jogging? Ah, kata siapa mahasiswa melempem? Tidak! Demo mahasiswa tetap ramai, bergairah. Terjadi di hampir setiap kampus. Anda saja yang enggak denger beritanya. Karena media tak mengeksposnya. Masih ingat ada kerbau jadi peserta demo di depan istana? Mahasiswa bebas berteriak, dan media leluasa meliput. Saat itu presidennya SBY. Peristiwa yang hampir mirip juga terjadi di era presiden sebelumnya. Termasuk di era Gus Dur. Bahkan Gus Dur legowo dijatuhkan dan melepas jabatannya sebagai presiden. Demi memenuhi tuntutan demonstran. Gentle. Apakah Gus Dur terlalu lemah untuk m...